Benteng Buton merupakan peradaban sejarah yang kini ditetapkan sebagai cagar budaya nasional oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sejak tahun 2003. Benteng Buton juga kerap kali dikenal sebagai Benteng Wolio yang mulai dibangun pada masa Sultan Buton III La Sangaji dengan gelar Sultan Kaimuddin, memerintah Buton pada 1591 – 1596. Pada awalnya, benteng Buton dibangun dalam bentuk tumpukan bantu yang disusun mengelilingi kompleks istana sebagai pagar pembatas antara komplek istana dengan perkampungan masyarakat. Benteng ini juga dibuat dengan tujuan sebagai benteng pertahanan.

Kami mengangkat tema Benteng Buton sebagai salah satu pattern yang menjadi koleksi Klamby dikarenakan keunikan dan fakta membanggakan bahwa Benteng Buton adalah benteng terluas di dunia. Perlu kamu ketahui, Benteng Buton ini memiliki luas hingga 23,3 hektar. Ada pun fakta mengejutkan yang belum banyak diketahui publik, bahwa dalam masa pembangunannya Benteng Buton dibangun dengan batu gunung dan karang yang direkatkan dengan putih telur, lho. 

Bangunan ini memiliki empat buah boka-boka atau pos pengintai (bastion) di empat penjuru, 12 pintu gerbang (lawa), 16 benteng kecil (baluara), parit dan sistem persenjataan berupa badili atau meriam sepanjang buatan Portugis dan Belanda. Letak Benteng Buton sendiri berhadapan dengan lautan, dimana lautan ini turut kami jadikan pattern berbentuk lautan indah. Dipadu dengan pattern bunga seruni Manado yang khas dan indah turut mempercantik koleksi Benteng Buton dari Klamby. 

Tidak hanya itu, ada pula cerita menarik yang ikut mewarnai cerita Kerajaan Buton. Alkisah, diceritakan bahwa Raja Buton pertama adalah seorang ratu bernama Wakaka yang muncul dari bambu. Dalam hal ini, bambu merupakan hal simbolik yang memiliki makna dan nilai. Diantaranya adalah keluarga besar yang saling menopang, dimana bambu adalah tanaman yang hidup berumpun, hidup bersama tidak sendiri – sendiri. Bambu disebut juga sebagai sumber kehidupan yang dapat memberi pengaruh terhadap seseorang atau sekelompok, pemimpin yang bijaksana, pemberi perlindungan, dan bermanfaat bagi orang lain. 

     

Makna dari sebuah bambu ini sangat kuat sehingga Klamby mengusungkan pattern bambu yang terlihat cantik dan feminine sebagai perwakilan dari legenda ratu bambu. Lalu, pada pattern terakhir berupa deretan bunga – bunga merekah, yang pola penempatannya mengibaratkan Benteng Button itu sendiri. 

Banyak makna dan nilai yang dapat diambil dari sejarah Benteng Buton ini, cerita rakyat yang bernilai milik Indonesia selalu memiliki kesan dramatis namun juga indah. Oleh karena itu, Klamby ingin mengabadikan dan mengapresiasikan ke dalam bentuk pattern modest fashion terkini yang dikenakan, dilihat dan disimpan oleh semua orang yang memilikinya.