Press Release

Klamby Do Survive during Pandemic

29 JUNI, TANGERANG

Pandemi Covid-19 melanda berbagai negara didunia, tak terkecuali Indonesia. Sejak ditemukannya kasus pertama Covid-19 di awal bulan Maret 2020 hingga 29 Juni 2020, jumlah yang terjangkit sudah menyentuh angka 54.010 orang.

Hal ini pula yang mendorong pemerintah melakukan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB di berbagai daerah zona merah sejak sejak 10 April 2020.Akibatnya, terjadi banyak perubahan di berbagai bidang mulai dari pariwisata, pendidikan hingga perekonomian.

Berdasarkan data yang dimuat LIPI, tercaatat 39,4 persen usaha di Indonesia terhenti, 57,1 persen usaha mengalami penurunan produksi dan hanya ada 3,5 persen perusahaan yang tidak terdampak oleh pandemi Covid-19 yang menyerang Indonesia selama hampir empat bulan terakhir.

Sedangkan menurut Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Tangerang, pandemi Covid-19 mengakibatkan perubahan yang masif hingga mengakibatkan penurunan permintaan pasar di berbagai perusahaan. Bahkan, tercatat ada 10 perusahaan di Kabupaten Tangerang yang terpaksa melakukan penutupan perusahaan.

Meski demikian, masih ada beberapa perusahaan yang mampu bertahan di masa krisis ini, salah satunya adalah Wearing Klamby, merek busana muslim lokal besutan Nadine Gaus dan Muhammad Ridho. Klamby menjadi salah satu perusahaan yang bergerak di bidang fashion dan mampu bertahan di tengah tidak stabilnya perekonomian di Indonesia karena Covid-19.

Hingga di masa new normal yang dimulai sejak 1 Juni 2020, Klamby pun tak luput dari masa sulit. Namun, kehadiran dan kesetiaan Klamby Loyal Customer menjadi dukungan bagi Klamby untuk tetap bertahan dan memberikan karya terbaik. Bahkan, Klamby kembali meluncurkan koleksi terbaru, yakni Anggrek Series yang terdiri dari blouse, tunik, dress dan scarf pada Juli 2020.

Dengan mengutamakan online-based shopping yang memungkinkan pemenuhan sandang hanya dari rumah, Klamby bukan hanya mampu bertahan tetapi juga turut serta dalam melakukan pencegahan penyebaran virus Covid-19.

Hal ini juga menjadi bukti bahwa goyangnya perekonomian Indonesia yang mengakibatkan tak sedikit perusahaan memilih untuk gulung tikar, nyatanya masih menyisakan perusahaan-perusahaan yang mampu bertahan dan melewati masa krisis selama pandemi.